Pintu Para Pembohong
Lelaki gemuk yang tiba menegur saya di bawah teduh pohon beringin universitas namanya Pak Gendut. Paraban, panggilan lelaki itu tidak mengambil alih perhatian saya dibandingkan umurnya serta semangatnya. Umurnya yang bertambah muda dari pohon beringin universitas tetapi bertambah tua dari sepedanya tidak meloyokan semangatnya tawarkan barang dagangangannya.
Sekalian bawa seputar sepuluh buku di keranjang sepedanya, bodoamat siang bolong, dia mendekati sebagian orang di seputar UIN Sunan Kalijaga pada Rabu, 09 September 2020. Berdasar penuturannya, covid-19 sudah memukul mundur beberapa mahasiswa pulang ke kampung halaman.
Pak Gendut yang mempunyai kos-kosan yang simpel -- empat juta rupiah pertahun sewanya di seputar rel kereta Ngentak Sapen. Dia sangat terpaksa jual beberapa buku koleksi bapaknya yang dahulu sempat kuliah di IAIN sebab semasa hampir 1/2 tahun tidak ada penghasilan.
"Semenjak tempo hari perut saya belum terisi nasi mas. Kos-kosan saya sepi, kosong-song, ditinggal mahasiswa pergi pulang kampung. Saya ingin jual buku. Ini buku baik mas. Berkualitas, jamannya masih IAIN. Kurang lebih njenengan senang baca buku atau mungkin tidak? Tertarik dengan buku-buku ini?" katanya, sekalian keluarkan dua kitab serta satu buku peradaban islam.
"Wah maaf Pak, mboten rumiyen, tidak dahulu Pak. Saya penjual buku" jawabku, sambil ekspresi wajah lelaki sepuh ini beralih. Keinginannya pupus, entahlah keberapa kalinya.
Seperti kehadirannya yang tidak diduga, Pak Gendut menikungkan pembicaraan jual buku jadi masalah dunia universitas serta kebohongan. Dia menjelaskan jika seorang wanita yang ditawarinya buku sebelum saya terancam tidak diluluskan dosen sebab tidak beli jurnal.
"Saya nelangsa mas, mbak-mbak yang kelupaan saya tanyai nama serta fakultasnya itu hampir nangis. Apa iya ketentuan universitas demikian mas?" saya menggeleng. "Jika dahulu sempat ada mas, waktu masih IAIN tahun 80-an ada dosen tarbiyah, fakultas Pendidikan buat buku tiga. Mahasiswanya diwajibkan beli buku. Jaman itu, uang kuliah semesternya masih 25 ribu, dosen itu jual tiga buku itu 27 ribu" paparnya.
Saya manggut-manggut memerhatikan ceritanya Pak Gendut. Sesudah senyum minta mengundurkan diri, dia mengayuh sepedanya pergi. Keberlaluannya tidak lalu hilangkan rasa takjub saya pada semangatnya yang setegar karang tapi pun tidak lalu hilangkan pertanyaan menggelitiknya : apa memang saat ini keblinger, sudah jadi lelakune wong pinter? Kebohongan di ruangan pengetahuan?
Saya geli. Pak Gendut sudah tidak menyengaja menggelitik saya pas di titik syaraf geli saya. Saya ingat rasa geli ini sudah lama tidak saya alami. Kebohongan di ruangan pendidikan!
Pada tahun ke-2 kuliah, saya pernah merasakan pengalaman tidak membahagiakan. Seorang professor yang mengampu mata kuliah antropologi politik (sebelum perkembangan kurikulum), geram waktu isi kuliah tatap muka ke-3. Emosinya terpancing oleh keterlambatan mahasiswanya. Dia akhiri kuliahnya bertambah cepat dari agenda sesudah mereferensikan buku yang penting dibaca, Pengantar Pengetahuan Antropologi I serta II dan mengingatkan toleransi keterlambatan mahasiswanya.
